Selamat Pagi

Aku memutar Bad Day dari Daniel Powter. Aku suka entah kenapa. Padahal aku sendiri jarang menganggap hariku buruk. Mungkin musiknya memang bagus. Dan hari ini bukanlah hari yang jelek. Setelah sebelas hari menderita demam tigapuluh delapan derajat celcius, pagi ini aku merasa sangat sehat. Terimakasih untuk satu hari lagi yang Kamu berikan, Tuhan. Selamat pagi Tuhan.

Aku melihat langit biru dari sini, ada burung alap-alap yang bersliweran, bau pantai, laut yang tertutup tembok perumahan, tapi aku masih bisa merasakan udara segarnya dan ah, Ibu menutup pintu dan mulai menyalakan TV. Selamat pagi Ibunda.

Aku sebenarnya sudah mengirim pesan pendek untukmu, pagi tadi. Sekedar menyapamu. Membangunkanmu, siapa tahu kamu belum terjaga. Mengajakmu melakukan sesuatu bersama. Tapi sampai sekarang pesan itu belum sampai juga. Jaringan yang sibuk? Mungkin saja. Aku masih suka dengan teorimu tentang dua kursi dengan meja kecil di sudut itu. Aku jadi kangen. Pesan pendek norakmu semakin membuatmu terlihat menggemaskan dibanding menyebalkan. Atau jangan-jangan itu memang strategimu agar aku semakin menyukaimu? Ah, kamu berhasil sahabatku. Aku semakin mencintaimu setiap harinya jika kamu tahu.

Selamat pagi sahabatku. Sahabat seumur hidupku.

6 Replies to “Selamat Pagi”

  1. aku juga suka lagu itu..so much!
    dah sembuh ya, mas…sehat tu mahal loh..
    btw, kayaknya asik juga ngliat kakakku yang superduper aktif ini terkapar tak berdaya [ah, aku melewatkannya..].huahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *