Terima Kasih

“Aku ingin itu, aku sudah berusaha dan aku selalu berdoa untuk itu, kenapa Kamu tidak juga mengabulkannya untukku?” Tanyaku padaMu setahun lalu. Lalu kulanjutkan dengan gerutuan yang menyalahkanMu. “Lihat, Kamu membuatku mengecewakan semua orang. Sahabat-sahabatku. Orang-tuaku. Orang-orang terdekat. Dan aku tentu saja. Coba kalau Kamu mengabulkan doaku, semua akan tersenyum. Ah, apa sih yang Kamu rencanakan?”

Lalu bayangan tentang satu tahun yang berat dan penuh tekanan itu hilir-mudik dalam kepalaku. Kamu selalu berkata padaku tidak akan memberiku beban yang tak bisa kupikul. Tapi ayolah, ini sangat berat buatku. Sangat susah untuk bisa mengerti rencana kebaikanMu jika dalam hidupku sama sekali tidak ada yang berjalan dengan baik.

Aku berusaha menjauh dariMu, tapi Kamu seperti perangko saja. Selalu saja didekatku. Tak mau lepas. Aku kira jika aku jauh maka Kamu juga akan menjauh, seperti lagu Bimbo itu lho. Tapi aku salah. Kamu selalu ada didekatku. Kamu memaklumiku. Ya, Kamu tidak meninggalkanku karena Kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpaMu.

Lalu tanganMu yang lembut itu menuntunku; melalui pribadi-pribadi yang kutemui, perjalanan-perjalanan yang kubuat, peristiwa-peristiwa yang kualami, iya, menuntunku untuk melihat bahwa masih ada aku dalam rencana besarMu. Dan aku menjadi jatuh cinta padaMu ketika mengetahui Kamu memperhatikanku dengan sangat.

Lalu Kamu mulai gatal melihatku setelah aku memberikanMu hatiku. Kamu mulai merubahku. Cara berpikirku Kamu rubah. Sikap hatiku juga. Ah, Kamu benar-benar menikmatinya ya? Lalu Kamu mulai mengisi lubang-lubang yang kosong didasar palung hatiku.

Setelah itu Kamu seenaknya membuatku jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Dan ketika dia juga mencintaiku itu juga kerjaanMu kan? Begitu juga dengan sebentuk kenyamanan yang kutemukan padanya.

Penundaan satu tahun itu benar-benar satu dari banyak skenario brilianMu dalam hidupku. Yah, mimpiku mungkin saja indah tapi rencanaMu tetap saja yang terbaik, rencana untuk menjagaku, bukan meninggalkanku, rencana yang memberiku masa depan penuh harapan.

Lalu gerutuanku jadi sesuatu yang tidak bermutu ketika ternyata Kamu benar-benar mengasihiku.

Terima kasih Tuhan.

6 Replies to “Terima Kasih”

  1. itu memang jalan yang terbaik yah bwat mas firman. Saya juga percaya walo semester ini cuma bisa ambil 21 SKS, tapi mungkin memang ini yang bisa saya lakukan πŸ˜‰

  2. sebaikny ajangan pernah menyalahkan Tuhan.apa yang Tuhan berikan tuk kita mungkin itu jalan yang terbaik yang harus kita tempuh.

    mas, thanks bgt ya yg kemarin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *