Berjuta Musim

Aku berjalan melewati jalan yang menghubungkan kampus MIPA dan Fisipol. Jika pagar Gedung Pusat dibuka maka jaraknya hanya sekitar limaratus meter dan aku tidak perlu memutar terlalu jauh. Aku senang menikmati rindangnya pohon yang memayungi dari terik di sepanjang jalan aspal itu. Ada satu bagian waktu dimana aku pernah berkutat dengan pernak-pernik kesibukan mahasiswa di universitas ini.

Perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar. Aku pernah memanggilnya seperti itu karena siapapun akan tersenyum jika melihat tatapan mata cerianya, jadi aku pikir jika senyum itu pernah pudar dari wajahnya maka senyuman dari pribadi-pribadi yang pernah bersentuhan hidup dengannya akan membuatnya mendapatkan senyuman itu kembali. Penuh gairah, cerdas dan jalannya sangat cepat. Terpaut satu angkatan dibawahku tapi itu tidak membuatku menganggapnya tidak lebih dewasa dariku. Aku malah lulus lebih lambat darinya. Fisipol. Aku sering bergumam padanya jika aku lebih suka kuliah di kampusnya daripada berkutat dengan teori Ilmu Komputer.

“Global village itu teorinya McLuhan,” katanya.
“Bukan Habermas?”

Tapi ketimbang global village aku lebih menyukai teori dua kursi dengan satu meja di sudut yang dikatakannya karena aku sangat menyukai saat-saat ketika aku bisa berada didekatnya.

Bangunan Fisipol selalu tampak meneduhkan buatku. Begitu juga dengan perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar, sebentuk kenyamanan yang begitu mencintai hidup. Sosoknya sering berjalan-jalan di kepalaku untuk membuatku tersenyum dan merasa nyaman. Aku merindukannya.

“Dulu kamu pernah membuat satu puisi untukku, kamu ingat?” Kataku. Ya, dua tahun lalu, tepatnya satu november.
“Ya”
“Kamu menulis ini; untuk seorang yang semoga bukan sahabat semusim”
“Aku menulis itu?”
“Hahaha. Ya, pada bagian bawahnya”

Sahabat tidak seperti durian, berbuah dan menjadi harum saat musim hujan saja; sahabat itu mungkin seperti edelweis, susah dicari namun abadi.

Perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar. Sahabatku dengan bahu kecil yang begitu nyaman. Masih saja membagi kasih melalui senyumnya pada semua orang yang ditemuinya, pada sahabat-sahabatnya, teman-teman kantornya, orang-orang asing. Dan pagi ini dia membagi kasihnya padaku;

“Aku mencintaimu, sahabat berjuta musimku…”

7 Replies to “Berjuta Musim”

  1. Sahabat tidak akan pernah pergi dengan menyisakan sepotong bulan sabit–yang sinarnya semakin redup. Namun dia akan sisakan janji bahwa di kemudian hari dia akan terbit dan berpijar: purnama

  2. dari dulu aku ga bisa nulis, jadi kalau mbaca tulisan2 yg bagus kayak gini, suka heran n bertanya sendiri, gimana sih bikinnya? ^^

    salam kenal dari balikpapan, atau mungkin kita pernah kenal? kemungkinan besar kita pernah ketemu di kampus ^^ hehehe maklum pelupa ;P

    [wwn]
    ilkomp ugm 98

  3. sahabat?

    wah friends dong !

    salam 20th century boys karangan urasawa naoki, sahabat adalah pria yang berusaha menaklukkan seorang laki – laki yang ingin menghancurkan dunia. Padahal kenyataannya pria itulah pemimpin sindikat yang ingin menghancurkan dunia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *