Sepotong Percakapan di Suatu Malam

“Kamu nyanyi buatku dong fir,” suara cempreng di suatu tempat yang jauhnya ratusan kilometer dari tempat tidurku. Kamu merajuk.
“Heh? Nggak ah. Dah malem tau, nanti semuanya bangun.”
“Ayolah, aku suka saat kamu menyanyi untukku.”
“Ah, kamu sih suka apa saja yang kulakukan untukmu. Suaraku jelek. Kamu saja yang menyanyi untukku, bagaimana?”
“Suaraku lebih jelek, kamu saja.”
“Huu…,” aku diam sesaat dua. Lalu mulai mencoba menempatkan not-not yang keluar dari mulutku pada tangga nada yang sesuai. “I like the feel of your name on my…
“Eh, tunggu! Tunggu! Gak kedengeran nih, kamu nyanyi kayak bergumam gitu. Dah tau kualitas pendengaranku jelek. Diulang dong, tapi yang jelas ya,” katamu menginterupsi nada-nada fals yang lirih itu. Tidak sopan!

Baiklah. Aku akan bernyanyi untukmu. Literal. Aku benar-benar akan bernyanyi untukmu. Aku suka melakukannya. Sungguh. Lalu lirik I love the way you love me mulai keluar dari pita suaraku. Kamu terdiam, mungkin tertidur.

“Terimakasih. Aku suka.” Kamu terdengar begitu gembira saat aku selesai bernyanyi. Ah, aku juga ikut senang.
I love the way you love me.”
“Hehehe. Me too,” kamu tertawa. “Mmm, ada lirik yang gak begitu jelas kudengar tadi. Bisa kamu membacakan liriknya untukku?”
“Enggg. My pronunciation is awful, you know it. Aku terjemahkan saja ya? Tapi aku akan mengartikannya semauku saja.” Tawarku sekenanya.Aku mulai mengingat-ingat lirik lagunya dan mencoba mengartikannya. Sebisa mungkin. Tuhan tahu aku sudah berusaha.

“Aku suka bagaimana rasanya ketika bibirku mengucapkan namamu, aku juga suka bunyi yang timbul saat kamu mengecupku,” aku mulai menerjemahkannya dengan seenaknya. Tapi iya, aku suka bagaimana deretan alfabet itu membentuk namamu saat aku menggabungkannya dalam hatiku. Dan aku suka kecupanmu tentu saja.
“Hmm.”
“Aku suka kala jari-jarimu mengacak-acak rambutku. Dan juga bagaimana seolah-olah kamu masih berada didekatku saat kamu jauh. Aku suka bagaimana matamu menari waktu kamu tertawa, pun tersenyum. Bagaimana kamu menikmati mandimu yang lama.”
“Hahaha.”

Aku melanjutkannya.

“Aku suka caramu meyakinkanku untuk menari bersamamu ditengah guyuran hujan dengan semua orang yang melihat dan menganggap kita gila,” aku diam sejenak, mendengar bunyi nafasmu. “Untuk semua perjalanan dan perjumpaan tak terencana yang sudah kita lakukan. Dan keberhasilan meyakinkan masing-masing untuk melakukannya.”
“Ya, dan aku menyukainya. Tapi orang-orang gak menganggap kita gila kan?”
“Engga. Tapi aneh.”

Kamu tidak banyak mencela terjemahan bebasku. Aku melanjutkannya lagi.

But I love the way you love me. Strong and wise. Slo…
“Hah? Apa? Wise? Kamu yakin?”
“Emm, ga tau ya, seingatku sih iya. Coba deh kamu puter lagunya di laptopmu.”
“Batrenya abis, males nyolok, laptopmu aja, hehehe.”
“Dasar.”

Aku mencari Eric Martin pada pustaka iTunes-ku lalu memainkannya. Lamat-lamat aku mendengar kata wild. Liar. Gila. Bukan bijaksana. Ah, ternyata aku juga punya masalah dengan pendengaran, sahabatku.

Oops, it’s wild, not wise.”
“Ok, lanjutin dong,” pintamu.
“Aku suka bagaimana kamu mencintaiku sayang. Bersemangat dan gila. Tidak tergesa dan mudah; mudah sekali untuk mencintaimu. Sepenuh hati dan jiwa. Saling melengkapi.”
“Heh? Apaan? So complete?
So completely.”
“Bukan; dengan sangat lengkap?” Kamu mengoreksiku.
“Apa yang salah dengan; saling melengkapi?”
“Ga ada yang salah kok. I like it. Hmm, saling melengkapi…”

Aku sangat suka melakukan percakapan-percakapan tidak penting semacam ini denganmu. Aku tahu kamu juga begitu. Dan sekarang aku begitu merindukanmu.

“Nah ini yang aku ga tau. Bantuin ya. I like the way that your six sweets and long. Artinya apaan ya?” Tanyaku.
“Ah, itu mah kamu. Hahaha. Enam satuan waktu yang manis dan panjang…”
“Heh! Itu kita. Enam. Enam bulan,” aku asal menimpali saja setelah sadar tersindir oleh masa lalu, dan dalam diam kamu sepertinya sedang menghitung jumlah bulan yang sudah kita lalui.
“Salah! Kalo kita sih tujuh fir.”
“Ok, jadi liriknya berubah menjadi I like the way that your seven sweets and long. Hahaha.”

Aku memutar lagu itu sekali lagi untuk mendengar lirik-lirik terakhir yang tidak begitu kuhapal. Lalu aku melanjutkan lagi percakapan denganmu.

“Aku suka ketika mereka memutar lagu kita di radio. Dan aku suka dengan rengek tak bersalahmu yang aku lihat beratus kali di setiap saat yang kamu buat hanya untuk bercanda denganku. Dan kamu tahu? Aku bisa membuat daftar berjuta hal yang aku suka tentangmu…”
“Hahaha. Gombal. Yang ada juga daftar hal yang tidak kamu sukai fir…”
“Eh, belum selesai!” Aku menyela cerocosanmu. “Iya. Aku bisa membuat daftar berjuta hal yang aku suka tentangmu.
Dan semua itu cuma untuk satu alasan…
aku tidak pernah bisa hidup tanpamu.”

Kamu terdiam cukup lama.

“Aku berdegup fir.”

Aku tahu apa yang kamu pikirkan, sahabatku. Kamu bisa tetap hidup dengan atau tanpaku, begitu juga aku akan bisa melanjutkan hidup jika memang harus tanpamu. Tapi masalahnya bukan itu kan? Masalahnya bukannya kita tidak bisa, tapi kita tidak mau. Aku tidak mau.

Lalu aku tak bisa mendengar suaramu dengan jelas…
tertutup oleh degupku yang semakin keras.

I love the way you love me
Eric Martin
(Victoria Shaw, Chuck Cannon)

I like the feel of your name on my lips
I like the sound of your sweet gentle kiss
The way that your fingers run through my hair
The way you certain linger around when you’re not there

I like the way your eyes dance when you laugh
How you enjoy two hours bath
The way you convince me to dance in the rain
with everyone watching like we were insane

But I love the way you love me
Strong and wild. Slow and easy.
Heart and soul. So completely.
I love the way you love me

I like the way that yours six sweets and long
When they’re playing our song on the radio
I like the innocence way that you cry
At all times to fool me I see it hundred of times

I could list a billion things that I love alot about you
But they all come down to one reason
I could never have live without you

9 Replies to “Sepotong Percakapan di Suatu Malam”

  1. Ternyata NIETZSCHE benar….Perempuan dan cinta hanya akan melemahkanmu yang hanya membuat menjadi seorang…..PECUNDANG

  2. aku juga ikut berdegup loh baca ini..
    wakakakaka.. kok bisa yah :p

    πŸ™‚
    selamat menikmati perasaan itu ya fir πŸ™‚
    kita berbagi kesenangan πŸ™‚

    salam buat dia *sopo tho???*

  3. Saya hanya suka jalan2 dari 1blog ke blog lain. Eh, nemu blog ini.
    Setelah kuingat2, saya pernah ketemu mas firman ini. mas firman pernah jadi asisten praktikum saya..he2x
    setelah saya buka foto2 kkn-nya,saya nemu seorang yg ternyata temen saya.

  4. aduh….bner ya cwe bsa menjdikan kaum adam jadi pecundang,tapi bisa menambah smgt hdup.. tapi jgn lupa,cewe jg ada yang menciptakannya.Cinta pada dunia,dunia akan kiamat.cinta pada wanita,dia akan mati.Tapi CINTA pada sang PENCIPTA akan tetap abadi. karena DIA kan abadi, sama aqu jg lg sayang bgt m 1 cewe…….he…..doain ja…

  5. Gw ketemu link ini wkt lagi cari lyric Eric Martin.
    Ternyata kalimat yg benar itu bukan: I like the way that yours six sweets and long
    Melainkan: I like way that you sing sweet and low
    ini nyambung dgn kalimat berikutnya: When they’re playing our song on the radio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *