Jalur Empat

“Pak, nanti saya turun di Pamela satu,” kata seorang penumpang yang duduk di belakang supir bus kota jalur empat, seorang lelaki yang menggendong anaknya.
“Ya pak,” jawab supir itu.

Sebuah keluarga pikirku. Sementara suaminya menggendong anak duduk dekat jendela, istrinya terus menyerocos tentang dimana mereka berhenti, tentang ini itu, seru sekali. Aku memperhatikannya. Aku berada dua baris dibelakang mereka. Semilir angin yang masuk membuat lelahku menjadi kantuk. Sambil mendekap backpack, aku bersandar pada jendela bus.

“Pamela satu ya pak,” penumpang itu mengulang permintaannya pada kondektur ketika menarik ongkos.
“Iya pak,” kondektur itu menjawab dengan sedikit empati. Entah.
“Pamela satu itu yang biasanya kan?” Tanya supir bus pada kondekturnya. Mungkin sekedar meyakinkan jika dia tidak salah.
“Hooh.”

Pamela adalah sebuah toko swalayan yang memiliki banyak cabang yang menjadikan pemiliknya menamai cabangnya dengan imbuhan nomor di belakangnya. Pamela satu mungkin merupakan toko pertamanya yang setahuku ada di bilangan Kusumanegara.

“Kalau sudah sampai Pamela satu berhenti ya pak,” sekali lagi dia mengulangi permintaannya. Kali ini pada supir di depannya. Mungkin takut jika terlewat. Dan sesaat aku mulai terganggu.
“Belum kok pak,” sekali lagi supir itu menjawab. Tidak kasar meskipun suaranya cukup keras. Entah. Tidak seperti biasanya.

Sudah Gedongkuning sebentar lagi Gembiraloka, SGM dan Pamela satu.

“Sudah Pamela satu pak?” Kali ini yang bertanya adalah si istri yang dari tadi tidak bisa diam.
“Oh sebentar lagi bu.”

Ah, keluarga ini ribut sekali. Toh nanti saat bus ini melewati Pamela mereka akan tahu juga. Jika tak salah, semua toko pasti memberi tanda cukup besar yang bisa terbaca untuk tokonya. Sesaat aku terganggu.

“Pamela, kiri!” Teriak kondektur sambil mengetuk-ngetuk kaca bus dengan sebuah kunci.

Lalu bus kota jalur empat ini berhenti. Sesaat ketika rombongan keluarga kecil ini mulai turun aku tersentak. Aku malu. Pertama yang kulihat adalah seorang perempuan muda dengan badan yang agak berisi yang tidak memiliki mata sempurna. Dan kondektur itu membimbingnya keluar.

Lalu lelaki penggendong anak yang mungkin berumur sekitar satu tahun mulai berbalik dan turun dari bus. Dia mengeluarkan tongkatnya. Ah, mereka berdua buta. Pantas saja mereka takut jika Pamela satu terlewat. Lalu supir serta kondektur itu sama sekali tidak menganggap mereka sebagai beban. Mereka berdua tidak bisa melihat! Sementara warna-warni dunia bisa kutangkap dengan mataku; hatiku terus saja mengeluh.

Aku malu dengan perasaanku sendiri. Lagi-lagi aku tidak bisa mensyukuri hidup. Terganggu? Dunia tidak hanya diisi oleh manusia-manusia lelah yang tidak ingin istirahatnya terganggu. Dunia juga diisi oleh orang-orang bergegas, beberapa orang-orang baik dan manusia-manusia kuat; seperti mereka berdua. Dan saat itu dunia sepertinya kehilangan satu manusia pengeluh. Semoga.

Dan aku terus memperhatikan keluarga kecil itu sampai pandangan anak dalam gendongan lelaki buta itu melihat kearahku. Matanya bulat. Jernih sekali. Dia tertawa. Aku tersenyum. Terimakasih.

9 Replies to “Jalur Empat”

  1. “*Mandhap Sagan, Pak!”
    *Kata ‘mandhap’ merupakan Kata Kerja, bermula kata asal ‘andhap’ (bawah) yang berjenis benda mendapat prefik ‘m’. Kata yang diawali vokal terbuka jika digabung dengan prefik ‘m’ langsung melekat, tiada yang luluh. Maka, kata kerja ‘mandhap’ berarti ‘turun’.

  2. #3 ha, iya, kemarin dulu dateng 🙂
    #4, #6 kadang butuh waktu lebih lama untuk melihat keseluruhan masalah dengan akal sehat, dan saya sering lupa untuk menunggu sedikit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *