Menikmati Kematian

Menikmati semua hal yang terjadi dalam hidup menjadi sangat mudah jika mereka membuatmu tersenyum. Tapi tentunya tidak jika membuatmu menangis. Atau Jika menyenangkan, dan bukan menyusahkan. Padahal manusia tak dapat memilih selalu tersenyum tanpa menangis. Tak mungkin untuk terus-terusan berada di sisi yang menyenangkan. Iya, di semua kisah kehidupan manusia yang pernah ditulis, dongeng tentang peri maupun cerita dalam kitab suci, kehidupan tidak pernah digambarkan semulus itu. Tapi setidaknya kita bisa memilih untuk menikmatinya, seburuk apapun keadaannya.

Tidak seperti beberapa hal dalam hidup yang tak dapat kamu lakukan sendiri; kematian menjadi sesuatu yang mustahil untuk dinikmati. Pun berbeda dengan kelahiran maupun pernikahan yang memberi nafas pada kehidupan, kematian mengambilnya. Kematian biasanya disimbolkan dengan duka, hitam dan air mata. Sekilas tak ada keindahan disana. Atau memang benar-benar tidak ada.

Menikmati sesuatu akhirnya menjadi sangat subyektif. Menikmati kematian tidak sama dengan menikmati sebuah kelahiran, lagu yang bagus, biru langit, pertunjukan seni, bau tanah basah, hujan, pantai, maupun senyum para sahabat. Kant menyebutnya sublim. Perasaan yang hadir ketika mendengar guntur, amuk badai, malam yang pekat maupun kematian itu sendiri.

Ketika manusia hanya bisa pasrah, menangis, kehilangan, menyesal, maupun mengingatnya saat masih hidup, orang yang baikkah? Menjadi berkat bagi sesamakah? Atau melihat banyaknya karangan bunga di depan rumah duka. Menyadari begitu kecilnya manusia di hadapan kematian. Ya, menikmati hal-hal semacam itu.

Beberapa orang mati muda. Di hidupnya yang singkat beberapa sudah melakukan hal-hal menakjubkan, menikmati hidupnya, menghargai betapa berharganya waktu. Beberapa lainnya hanya mampir untuk sekedar bernafas sejenak. Ironis. Aku sering merasa akan mati di usia muda. Menjadi bintang jatuh. Menjadi komet bagi hidup orang-orang di sekitarku.

Bagiku menikmati kematian tidak pernah mudah. Itu selalu menjadi sebuah kontemplasi tentang betapa berharganya kehidupan, waktu dan sahabat. Kontemplasi tentang keabadian. Manusia yang bisa hidup selamanya di suatu sudut dalam hati orang-orang yang pernah bersentuhan hidup dengannya.

One Reply to “Menikmati Kematian”

  1. Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan ( Filipi 1 : 21 ), tetapi apa yang dahulu mrpkan keuntungan bagiku, skrang kuanggap rugi krn Kristus ( Filipi 3 : 7)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *