Monolog Sungai

Mungkin memang aku lahir dari air. Air suci dari bejana Brahma. Air yang digunakan untuk membasuh kaki Wisnu. Dari air kembali menjadi air. Aku turun dari nirwana untuk menjadi sungai. Sungai yang akan menyucikan enampuluhribu jiwa anak-anak Sagara. Airku yang bisa mengembalikan jiwa-jiwa ke nirwana.

Mungkin memang aku dilahirkan sedemikian cantiknya, sehingga dapat membuat Shantanu terpikat. Dia memintaku menjadi istrinya. Ah, raja Hastinapura itu benar-benar tergila-gila padaku. Aku mengiyakannya hanya dengan satu syarat; Jangan pernah mengajukan satu pertanyaanpun pada semua yang aku kerjakan!

Dan dia setuju.

Mungkin aku adalah ibu paling kejam di dunia. Aku hamil. Anakku. Anak Shantanu. Ia lahir. Aku menggendongnya menuju sungai dimana pertama Shantanu melihatku. Lalu aku membuang anakku. Iya, aku membuang darah dagingku sendiri ke dalam sungai. Setelah itu aku kembali ke istana dan tersenyum ketika bertemu dengan suamiku, Shantanu.

Dia hanya diam. Dia telah berjanji untuk tidak menanyakan apapun yang kukerjakan. Dan dia menepatinya dalam sorot mata penuh kesedihan dan kebingungan. Ah, Shantanu, Shantanu…

Demikian juga dengan anakku yang kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh… Aku membuang mereka semua ke sungai. Shantanu hanya menangis penuh kepedihan.

Ah, aku mengandung lagi. Anak kedelapan kami. Seperti biasa aku akan membawanya menuju sungai, lalu membuangnya begitu saja. Ya, seperti biasa. Aku mulai berjalan. Menggendong seorang bayi.

“Hentikan!”

Aku menoleh ke belakang. Aku tahu itu adalah suara suamiku, Shantanu.

“Aku tidak tahan dengan kelakuanmu! Kau selalu membuang bayi-bayi yang keluar dari rahimmu sendiri,” aku melihat seorang Shantanu yang tidak bisa menahan dirinya untuk marah. “Kenapa kau lakukan ini semua?”

Dan ia melanggar janjinya sendiri.

Aku tersenyum.

“Kau telah melanggar janjimu sendiri, Shantanu. Sudah saatnya aku pergi. Aku akan membawa anak kedelapan ini dan membesarkannya,” ya, setelah kau menelan kembali sumpahmu, aku harus kembali Shantanu. “Aku akan mengembalikannya padamu jika tiba waktunya.”
“Tttunggu! Siapa kamu sebenarnya?!?!”
“Aku adalah ibu dari anak ini,” dan anak ini akan kunamakan Bhisma, Shantanu. “Aku adalah dewi sungai. Namaku Gangga.”

Mungkin aku adalah ibu paling kejam. Dan aku melahirkan Bhisma; manusia terluhur yang pernah ada.

Monolog Sungai adalah lakon Teater Garasi pada 5-6 April 2007

10 Replies to “Monolog Sungai”

  1. hi, firman… akhirnya bertemu denganmu kemarin, tapi honestly ga suka pertunjukannnya terlalu cerewet, and too many rumblings… (sigh)

  2. hahaha, Bhisma adalah paradoks kurawa kang kus, manusia dengan jiwa besar yang terikat oleh sumpah mengerikannya. Tapi sebenarnya dia terbunuh oleh Arjuna yang bersembunyi dibalik Srikandi. Karena Bhisma tidak pernah ingin berkelahi dengan seorang perempuan, dia menurunkan senjatanya, iya, dia tahu Srikandi adalah Amba, perempuan yang pernah ditolak untuk menjadi istrinya. Dia masih manusia terluhur yang pernah ada, sosok yang tak pernah mengeluh, seburuk apapun keadaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *