Juanda

“Maaf,” laki-laki di sebuah lobby hotel di depan terminal Bungurasih itu berkata dengan cukup sopan, “jika hanya memesan satu kamar, alamat di KTPnya harus harus sama.”
“Ok, nggak apa-apa,” tak kalah sopan kamu membalasnya.

Surabaya, pukul sebelas malam, sudah larut. Pulang ke Malang adalah pilihan yang tidak bijak. Selain mengantuk, badan kami juga lelah. Kami lalu memutuskan untuk mencari tempat untuk merebahkan badan sesaat-dua. Lalu pagi-pagi sekali baru melanjutkan perjalanan. Itu rencananya.

“Gimana?” Tanyaku padamu, “kayaknya semua penginapan di sini peraturannya emang gitu.”
“Ya, kita cari aja dulu,” jawabmu.
“Hmm, kamu saja yang pake kamarnya, aku bisa tidur di lobby atau di mobil…”
“Nggak ah,” kamu berkeras.

Malam semakin dalam. Waktu berjalan terus seiring kami yang meletih. Kami berjalan tidak terlalu cepat sembari melihat ke samping kanan maupun kiri memindai sekeliling. Kami lalu berbelok ke timur. Ke arah Juanda. Biasanya banyak penginapan di dekat terminal ataupun bandara. Lalu satu penginapan lagi menolak kami. Tidak salah. Memang mungkin begitu seharusnya agar penginapan-penginapan tidak disalah-gunakan. Bisa jadi. Kami tidak marah. Pun kami cukup tahu diri. Ternyata cukup sulit mencari tempat untuk melepas penat di tengah malam di kota yang terkenal dengan gang Dolly-nya tanpa harus dicurigai dan membuat orang lain beranggapan macam-macam bagi dua manusia yang berbeda gender.

“Yah, paling di hotel yang agak mahal kita baru boleh pake satu kamar,” gumammu, mungkin menggerutu. Aku diam sejenak. Sebenarnya tidak rela harus menyewa kamar yang mahal hanya untuk empat jam.
“Hei, bagaimana jika kita tidur di bandara?” Aku mencoba berimprovisasi, setelah aku mulai berpikir tentang Kantor Polisi dan Masjid sebagai alternatif lain.
“Heh?”
“Parkirnya luas. Kita bisa tidur sebentar di sana.” Lalu kamu tersenyum dan dengan semangat membelokkan arah menuju Bandara Juanda.

Sepuluh sampai limabelas menit kemudian kami sudah berada di pelataran parkir Bandara Internasional di ujung timur pulau Jawa. Berhenti tepat di depan pintu keberangkatan. Lalu memundurkan dan menarik jok ke belakang sampai batas maksimal. Merebahkan diri dan …

“Aduuh, silau sekali!” Teriakmu. Mengingatkan bahwa kami ada di bandara internasional bukan di sawah.

Kamu tak peduli. Memarkir ulang, mencari posisi yang membelakangi lampu-lampu megawatt itu. Aku diam saja, hampir tertidur. Kudengar mesin dimatikan setelah jendela belakang dibuka sedikit; demi kehidupan.

“Selamat tidur, sahabat,” aku mengecupmu. Kamu tersenyum dan mulai memejamkan mata. Aku memunggungimu. Mencoba terlelap…

VROOOOOOOOMMMMMMMM!!!!!!

“Hahahahaha,” tentu saja bising; ini bandara internasional bukan kuburan. Aku tertawa sambil berharap itu adalah penerbangan terakhir di hari ini.

Aku melihat ke arahmu.

Senyum yang seolah mengatakan sesuatu padaku, lengkung pelangimu seperti berbisik; “Aku suka melakukan apapun denganmu, sahabatku.”

5 Replies to “Juanda”

  1. hotelnya ‘bersih’ tuh bro, kalo dimalang, tiap kali kami nginep (saya ama istri) malah ga pernah ditanyain gitu biarpun kita selalu siap buku nikah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *