Dari Tumbaling Gegayuhan Sampai Tuk

Selalu ada rasa kangen untuk melihat pertunjukan seni saat berada di Yogya. Bisa jadi karena kota ini tidak pernah kehabisan ide, talenta dan semangat berkesenian di tengah geliat kapitalisme. Menjadi surga bagi seniman maupun penikmat seni. Saya mungkin termasuk jenis kedua, seorang penikmat seni yang tidak harus menjadi ahli, karena sebuah pertunjukan seni bagi penikmatnya selalu menjadi semacam pengisi pundi jiwa yang kerap kosong.

Adalah kosong; ketika menjadi serba bergegas dan sia-sia menemukan keindahan hidup gara-gara dikejar target; mengutip Bre Redana. Sebuah tagline seni instalasi dari Dagadu di Biennale Yogya menyindir saya tentang kerja dan kekosongan; Kerdja Keras bagai Koeda, Kedjar Tjitra-jitra! Soegeng Makarja. Lalu seketika itu juga Gibran menjadi kadaluarsa; kerja bukan lagi pengejawantahan dari cinta, bukan begitu? Alih-alih melambat dan memaknai hidup; saya malah seringkali membuat resolusi untuk mempercepat langkah dan membudayakan kebergegasan pada pergantian tahun.

Saya menyukai teater, mungkin Anda juga, dan tak sedikit yang seperti Anda dan saya. Tapi menurut saya teater di negeri ini adalah semacam paradoks. Gempita seni pertunjukan tak serta merta membuat teater tak termarjinalkan. Saya yakin pengalaman berteater akan membuat keahlian para seniman seni pertunjukan semakin komplet, saya pikir itu jauh lebih dari pada main sinetron. Tapi tetap saja ia menjadi anak tiri seni pertunjukan lain seperti film dan musik. Padahal teater merupakan salah satu seni pertunjukan tertua dan ia telah menjadi bagian dari kehidupan tradisional masyarakat di beberapa daerah. Sebut saja lenong, ludruk atau kethoprak.

Festival Kethoprak

Festival KethoprakFestival Kethoprak antar kabupaten dan kota se Daerah Istimewa Yogyakarta pada 15-17 Desember tahun lalu mungkin adalah upaya pemerintah DIY mencari bibit-bibit baru seniman kethoprak sekaligus menjadi acara rutin tahunan guna melestarikannya. Kalau mau sinis bisa dikatakan sebagai formalitas agar kewajiban pemerintah di sektor ini terpenuhi, setelah melihat minimnya dukungan dan acara-acara sejenis. Tapi bagaimanapun juga usaha ini harus dihargai. Pada hari pertama festival saya disuguhi pertunjukan menarik dari Bantul dengan Tumbaling Gegayuhan dan Sleman dengan Rebut Kuwasa. Lalu hari terakhir oleh Mendung Puspo Jinggo-nya Gunung Kidul. Saya melewatkan dua cerita pada hari kedua ketika Kulon Progo membawakan Ki Ageng Mangir dan Kota Yogyakarta dengan Sang Pembayun. Penjadwalan dua tema yang sama pada satu hari menjadi sebuah blunder festival, sekalipun bisa jadi urutannya berdasarkan undian.

Fakta bahwa tidak semua penampil adalah seniman kethoprak dan sesekali berusaha untuk mengerti beberapa adegan yang menggunakan Krama Inggil tidak membuat kenikmatan saya menyaksikan teater tradisional yang berkembang di Jawa bagian tengah ini berkurang. Penampilan Sleman dengan akor antagonisnya yang terampil dalam penguasaan panggung mencuri perhatian saya. Wajar saja ketika Sleman menjadi yang terbaik pada festival kali ini. Terlepas dari kritik juri – ya, ya, kritikus tak pernah mati – penampilan mereka memang patut diapresiasi.

Suminten Edan

Kethoprak Kartini: Suminten EdanMasih dari taman budaya, beberapa setelah menikmati festival kethoprak antar kabupaten dan kota se-DIY, giliran Yati Pesek bersama Kethoprak Kartini-nya yang tampil dalam rangka menyambut hari ibu. Meski kali ini pertunjukan tidak gratis, antusiasme para penonton maupun penikmat sangat tinggi; lagi-lagi gedung taman budaya itu penuh sesak. Dari namanya Kethoprak Kartini mengedepankan nama Kartini sebagai simbol persamaan derajat; ya, semua pelaku kethopraknya adalah perempuan. Kebalikan dengan seni pertunjukan Kabuki di Jepang. Mereka mengusung lakon Warok: Suminten Edan. Sempat bertanya-tanya siapa yang akan memerankan Suminten yang cerewet itu. Sayang sekali, kualitas sound taman budaya yang kurang baik tidak diantisipasi sebelumnya sehingga vokal para pemain seakan hilang terkena kibasan angin dari tali kolor warok yang diperankan Yati Pesek dan Yu Beruk. Saya sempat tertawa sesekali tapi bagi saya penampilan lakon Rebut Kuwasa kabupaten Sleman beberapa waktu lalu masih jauh lebih bagus. Sungguh.

Tuk

Garasi: Tuk (Mata Air)Nama Garasi dalam dunia teater selalu membuat saya punya pengharapan besar untuk bisa melihat suguhan teater berkualitas. Berkali-kali saya jatuh cinta dengan lakon-lakon yang dibawakan oleh teater ini. Penguasaan panggung yang prima, olah vokal dan tubuh yang nyaris sempurna, pemilihan naskah yang brilian, dan tentu saja gayanya yang absurd! Pengharapan yang sama juga saya bawa sewaktu pementasan Tuk (Mata Air) oleh teater Garasi di Socitet Militer. Sekali lagi, Cindil mengangkat naskah dengan basis Jawa. Dan setelah setengah jam berlalu, saya mulai berpikir saya terlalu banyak berharap pada aktor-aktor baru hasil pelatihan Actor Studio Teater Garasi selama enam bulan itu sebanding dengan kualitas para seniornya. Yah, naskah yang kuat tidak didukung oleh kemampuan para aktor untuk membuat penonton tak bosan. Setidaknya hanya pemeran Bhisma yang tampil menonjol dalam Tuk. Pertunjukan yang bagus, tapi tidak jika saya berharap mendapati teater garasi yang biasanya. Sekali lagi saya sadar, regenerasi butuh proses. Kebergegasan seringkali menyingkirkan proses dan menguburnya dalam-dalam atas nama hasil, laba, profit. Sementara proses sendiri tidak bisa berjalan baik ketika tak dinikmati, tak dimaknai. Seperti hidup; proses butuh apresiasi.

Adakalanya memang; untuk sejenak melambat dan lebih memaknai hidup, menikmati proses itu. Just slow down and live.

6 Replies to “Dari Tumbaling Gegayuhan Sampai Tuk”

  1. nganu mas…
    yang dimaksud pertunjukan garasi biasanya itu yang mana? repertoar hujan, waktu batu? yang absurd?
    kalau yang tuk kemarin itu teater gaya realis. jadi ya tidak absurd. apakah mas pernah melihat pertunjukan panji koming, dan reh yang tidak absur. mungkin pertanyaan tentang ‘saya tidak mendapati teater garasi yang biasanya’.

    yang absurd maksudnya ,)

  2. oia, makasi ya udah liat ,)

    dan sudah bertahan hingga hampir dua jam

    salam dari mbah kawit cantik -)

    nb: mungkin pertanyaan… terjawab dari contoh ke2 pertunjukan panji koming & reh itu ,) (nambah ya, sekalian ngedit. hehe)

  3. Bukan soal absurdnya kok, diliat dari naskahnya memang lebih condong ke realis, teater rakyat atau mungkin sandiwara jadi saya tidak membandingkan dengan Waktu Batu atau Repertoar Hujan, tapi mungkin dengan Fireflies (nonton kan?).

    Harapan saya berlebihan saja, mbak desi. Secara sederhana: Garasi yang biasanya menurut saya itu; bisa membuat penonton tidak bosan apapun gaya teaternya.

    Sekali lagi, saya penikmat, bukan ahli. Saya jadi bosan ketika mbah kawit mulai berpidato; ya olah vokalnya datar, terlalu dipaksakan. Bandingkan dengan sekitar 1 jam monolog sungai yang saya bisa duduk diam menikmati tanpa rasa bosan padahal cuma ada Erythrina Baskorowati ngomyang sendirian.

    Begitu juga dengan akting bibit, soleman, dan beberapa aktor yang tidak menyatu dengan karakternya karena emosinya berlebihan. Fireflies juga mengambil bentuk realis dan diperankan oleh aktor2 baru kalo saya tak keliru; tapi ia jauh lebih memikat.

    Mungkin harapan saya terlalu berlebihan.

    Iya, regenerasi butuh proses. Saya tunggu pertunjukan2 Anda berikutnya. Selamat berproses.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *