Alan

Kami bertemu dengannya di lantai dua Taman Budaya Yogyakarta sewaktu menunggu seorang teman yang belum juga nampak. Di depan pintu masuk pertama, sembari mengamati manusia yang lalu-lalang di balkon besar itu. Ia memakai celana pendek, jaket kulit coklat, tas cangklong dan sepatu keds. Tidak begitu kumal. Tapi tak bisa dibilang bersih.

Sejenak kamu menyadari perbedaan kultur berpakaian penikmat budaya di Yogyakarta dan Surabaya. Celana jeans, kaus T; biasanya hitam, karena itu adalah warna yang tak mudah kotor, sandal atau sepatu keds. Natural. Nyaman. Dan biasanya penonton pertunjukan seni dan budaya selalu membludag di sini. Kamu lalu membandingkan penikmat di Cak Durasim ketika Sarimin dipentaskan. Lalu kita tertawa.

Ia membawa papir dan tembakau. Kulit wajahnya sudah bergurat banyak, menandakan ia tak lagi muda. Kurus. Ceria. Kulit putih, mata biru dan rambut pirang. Sejenak dia memandangi kami yang duduk lesehan di depan pintu yang tak terbuka.

“Saya dapat tiket dari calo,” tanpa basa-basi dia menggerutu pada kami dengan bahasa Indonesia yang fasih.
“Berapa harganya?” tanyamu.
“Tigapuluh lima ribu,” sambil duduk di samping kami ia masih menyatakan kekesalannya. Ia lalu mengacungkan sekilas tiket Sidang Susila berwarna kuning.
“Selamat datang di Indonesia,” gurauku. Kami tertawa. Ia tidak.Orang-orang kaukasoid yang menyukai budaya Indonesia cenderung tidak mau ber-lingua franca, sebisa mungkin mereka akan memakai bahasa Indonesia. Begitu juga dengannya.

“Seharusnya para calo itu ditangkap,” lanjutnya, “mereka tidak punya hak menjual tiket. Di Negara saya para calo bisa langsung ditangkap karena mereka melanggar hukum.”

Ah, melihat para calo yang berkeliaran tepat di depan loket adalah hal biasa di sini. Bisa jadi calo-calo itu orang dalam juga atau setidaknya mendapat restu dari dalam. Alasan ekonomi menjadi klasik, cenderung basi.

“Dari negara mana?” Tanyamu.
“Perancis. Saya Alan.”

Lalu kami berkenalan. Dengan ceria ia menanyakan nama dan beberapa detail tentang kami. Ia sedikit terkejut ketika mengetahui kami sudah bekerja.

“Sudah berapa lama di Yogya?” Aku ganti bertanya.
“Sejak Orde baru jatuh,” ia cengengesan, sambil melinting papir dan tembakau untuk dijadikan rokok.
“Senang dengan teater?”
“Ya, tentu saja. Saya orang teater.”

Ia lalu menceritakan kelompok teaternya yang bubar sejak gempa 2006. Dengan mata yang berbinar-binar ia bercerita tentang kesukaannya pada padepokan seni Bagong Kussudiarja, tempat ia kerap menonton pertunjukan seni, dengan konsep yang ia sukai. Ia membenci hirarki dalam hal menikmati pertunjukan. Tidak suka dengan kata VIP cerocosnya.

“Pernah ke Bali?” Selidikku. Bali adalah maskot wisata Indonesia. Turis-turis backpacker setidaknya pernah ke sana. Singgah. Jatuh cinta. Menetap barangkali.
“Pernah. Tahun 99. Tapi saya tidak menyukai Bali,” jawabnya terang-terangan. “Saya menyukai teater dan Yogya.”

Yogyakarta adalah daerah tujuan wisata andalan kedua setelah Bali. Yogya tak punya Kuta, Tanah Lot atau Besakih. Ya, ia memiliki beberapa bangunan maupun lanskap yang kerap dibandingkan dengan kekayaan Bali. Tapi kekuatan Yogyakarta bagi Alan adalah terletak pada dinamika berkesenian, semangat berkreatifitas, dan tentu saja budaya Jawa yang masih kental di sendi-sendi kehidupan masyarakatnya.

Yogyakarta menawarkan eksotisme yang lain menurut Alan.

“Saya ke dalam dulu, sudah mau mulai,” pamitnya pada kami. “Kalian tidak masuk?”
“Kami menunggu seorang teman,” kami menjawab hampir bersamaan.

Ia melihat penunjuk waktu di tangannya. Menyadari sudah saatnya pertunjukan teater Gandrik itu dimulai, ia sedikit mencibirkan bibir lalu berkata, “dasar orang Indonesia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *