Kiri atau Kanan

Aku melihat jam mekanik di pergelangan tanganku. Pukul duapuluh kurang beberapa detik.

“Dah mulai tuh teaternya,” aku menggodamu.

Kamu tersenyum-senyum. Tenang atau kalut, aku tak tahu.

“Aku tunggu dia. Kamu masuk aja dulu,” sahutku lagi. “Nanti aku susul”.
“Gak ah,” jawabmu sambil mencoba menghubungi seorang teman yang tak kunjung datang.

Seorang teman dari kota yang jauh, sedang berkunjung ke Yogya. Terpesona dengan monolog Sarimin, dia mencoba peruntungannya dalam Sidang Susila. Pukul duapuluh seharusnya pentas teater Gandrik itu dimulai. Ia masih juga belum tampak. Kami berdua sedikit was-was. Tersesat. Tak tahu arah. Itu dugaan terburuk. Untung saja belum ada tanda-tanda pertunjukan dibuka.

Kami harus menunggunya.

“Dimana?” Tanyamu setengah berteriak begitu hubungan telekomunikasi tersambung.
“Nih ngomong aja sama Firman,” serumu setelah beberapa saat, lalu menyerahkan k750i-mu padaku. Putus asa mungkin. Atau malah semakin bingung setelah mencoba mengarahkannya menuju tempat ini. Perempuan memang dikaruniai pemetaan yang lebih buruk dari laki-laki.

“Halo, sampai di mana?” Tanyaku padanya.
“Hai Fir, di halte Trans Jogja nih. Terus ke mana?”
“Eh?”

Halte bus berwarna hijau teduh itu puluhan. Di sekitar Taman Budaya Yogyakarta saja ada sekitar tiga kalau tak salah. Dua di dekat Shopping. Satu di depan Vredeburg.

“Ada bangunan unik yang berada di dekatmu?” tanyaku lagi.
“Sebentar,” sepertinya ia sedang mencari-cari ancer-ancer, istilah orang Jawa, semacam penanda pada kosa kata pemetaan. “Taman Pintar!” Serunya, aku seperti mendengar Eureka. Bagus. Ia tidak tersesat.

Berada di dalam hiruk pikuk kota kala malam tak jarang membuat seseorang lebih sulit untuk memetakan ruang. Tak terlihat lagi biduk penceng atau rasi bintang utara untuk menerjemahkan kata dari beberapa manusia baik hati penunjuk arah. Tak jelas di mana Utara dan Selatan. Yang ada hanya Einstein.

“Taman Pintar ada di sebelah kanan atau kirimu?” Relativitas. Kanan dan kiri adalah penunjuk arah paling mudah dimengerti.
“Kanan”

Itu menunjukkan ia berjalan menuju Barat.

“Mundur. Berbaliklah. Sampai Taman Pintar ada di sebelah kirimu,” aku mulai mengarahkan. “Setelah Taman Pintar. Tepat setelahnya ada jalan ke kiri. Berjalanlah sekitar 100 meter. Pertunjukan hampir dimulai”.

Aku menutup komunikasi. Lalu tertawa kecil. Menggodamu.

Sebenarnya ini cuma masalah kiri atau kanan.


Sehari sebelumnya. PKU Muhammadiyah.

“Coba kamu tangkupkan tanganmu,” pintamu, “seperti orang berdoa”
“Gaya doa seperti apa? Tiap agama punya klaim pose doa yang berbeda-beda.”
“Hahaha”

Maksudmu mengatupkan kedua tangan. Sehingga kesepuluh jari-jari berselingan. Model kebanyakan Kristiani berdoa.

“Seperti ini?”
“Ya, betul,” kamu tersenyum. Sekilas menganalisa, lalu, “Otak kiri!”
“Sok tau,” cibirku.
“Jempol kirimu di atas yang kanan,” jelasmu.
“Apa hubungannya jempol sama otak?” Protesku. Otak bisa saja memerintahkan sebaliknya. Ada yang pernah mendengar teori ini?

Kamu hanya tersenyum-senyum.

“Otak kiri itu logika,” lanjutmu lagi.
“Bukannya otak kanan?” Atau jempol kanan?
“Taruhan?”
“Boleh.”
“Berapa kecupan?” Tantangmu. Aku tertawa. Itu bukan taruhan, sahabatku. Aku lapar.
“Pizza Hut saja, dah lama ga kesana,” tawarku.

Aku mengeluarkan ponsel lalu mengetik left brain pada kolom Google di Opera Mini.

“Mba, kita ke martabak tugu,” ajakmu pada kakakmu. Martabak tugu, orang Yogya menyebutnya karena gerai Pizza Hut pertama di Yogya berada tepat di pojok perempatan Tugu Yogyakarta. “ada yang kalah taruhan.”

Kamu tersenyum licik.

Sebenarnya ini cuma masalah kiri atau kanan.

4 Replies to “Kiri atau Kanan”

  1. gara2 baca tulisan mas firman, ampe nyasar (lagi) ke blogthings.com/areyourightorleftbrainedquiz/

    btw blog ini pake mesin bikinan sendiri ya mas (kakilangit v4) ?
    salam 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *