Klise yang Cantik

Cliche but Beautiful

Ketinggian sekitar 2.329 meter sudah cukup untuk membuat udara menjadi sejuk kalau tidak bisa dikatakan dingin menusuk tulang saat kemarau seperti ini; kemewahan bagi para penghirup polusi. Medan yang mudah membuat tak hanya traveler dan pendaki gunung saja yang bisa menikmati puncaknya.

Sudah terlalu banyak cerita indah pendongeng-pendongeng, lukisan elok para seniman ataupun citra menakjubkan bidikan fotografer dari dunia di balik viewfinder mereka yang berkisah tentang lansekap ini.

Yah, Bromo adalah sebuah klise; klise yang cantik. Dan aku tak juga bosan mengunjunginya.

8 Replies to “Klise yang Cantik”

  1. Turun sedikit dari penanjakan, coba temukan desa tosari. cari gereja “Sidang Jemaat Allah” (kalau masih belum berubah, hehehehhe). Temui Pak Sur, pendeta di sana. Bilang padanya, bahwa kamu temanku… anak Mbebekan, Malang. Nanti bisa dapet banyak hal. Bisa numpang nginep, bisa jadi direbuskan kentang bromo yang terkenal nikmat, atau dicarikan jeep untuk berkeliling, kalau beruntung dengan harga yang lebih murah. Atau mungkin kamu ingin lebih mengeksplorasi pegunungan tengger, Pak Sur tahu banyak.
    Lalu, sampaikan salamku untuk beliau.

  2. hahah bagusan karimun jawa broo.. bromo dah spt lokasi t4 “PSK” para fotografer.. tp gak bisa di bandingin ding laut sama gunung.. spt Milan dan MU, Milan kelasnya UEFA kalo MU Liga Champions, juara bertahan lg :p

  3. hihihi, provokatif seperti biasa,
    karimun jawa bisa tuh, sama green canyon bagusan mana?
    MU? itu klub dari negara yang ga ikut piala eropa ya? :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *