Tentang Menjadi Bapak, Berlin, dan Hidup Yang Harus Dimenangkan

Aku melihat hidupku biasa-biasa saja, mungkin karena besar di Yogyakarta, kota yang mengajarkan bahwa hidup itu sebenarnya sederhana: urip kuwi sumeleh.

Di hidup yang tidak muluk-muluk itu ada saat-saat yang membuat tarikan senyuman di bibirku lebih lebar dari biasanya;

menikah dengan perempuan yang bersamanya aku bahagia, dan menjadi bapak dari anak perempuan yang membuatku berusaha menjadi lebih baik.

Ia, anak perempuan dengan pipi penuh itu lahir setelah perjuangan 31 jam ibunya di ruang persalinan. Ketika tangisannya yang pecah, melihat kilat-kilat mata bulatnya, dan merasakan detak jantungnya di pelukan kakuku, di saat itulah aku menyadari bahwa hidup tak bisa biasa-biasa saja.

Untuknya hidup harus dimenangkan;

kami akan membesarkannya di sebuah tempat di mana ia bisa belajar untuk mampu mengambil keputusan, membiarkan percaya apa yang dia mau, dan bisa menemukan jalan hidupnya sendiri.

Mencari pekerjaan di salah satu tempat paling layak huni, menjalani malam-malam panjang proses wawancara, diterima dua perusahaan sekaligus, memilih salah satu dan menolak yang lain, serta memulai hidup di negeri jauh adalah semacam pertaruhan.

Dan seperti kata Sjahrir yang mengutip Schiller;

hidup yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan.

Berlin, musim gugur 2018.

2 Replies to “Tentang Menjadi Bapak, Berlin, dan Hidup Yang Harus Dimenangkan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *